Minggu, 13 Januari 2013

keputusan besar

"Aku kayanya keluar deh dari sosial yang satu ini, aku gak akan bisa jadi apa-apa disini, aku juga gak nyaman sama semua yang ada disini". Rena meletakkan bolpen yang sedang Ia gunakan, tangannya tidak tau lagi harus mengerjakan apa, beberapa bulan terakhir ini Ia memikirkan kehidupannya disini. Di tempat yang Ia rasa sangat membuatnya tidak nyaman. Malam ini Ia ingin bicara dengan Aska, Lelaki 22tahun, calon suaminya..


"Kenapa sayang?". Tanya Aska lembut, Ia menganggap apa yang dikatakan Rena barusan hanya guyonan.


"Iya, I quit". Rena menenggelamkan wajahnya kedalam tangannya yang terlipat dimeja, untuk mengatakan ini Ia tidak sanggup melihat mata Aska, disanalah harapan akan dirinya dikirmkan oleh Aska, oleh semua orang yang menganggap dirinya mampu. Namun saat ini Ia sudah tidak lagi mampu menutupi gejolak bathinnya, perang bathin itu terlalu megah untuk disamarkan.


"Hei kamu kenapa? Aku serius tanya". Aska mulai sadar bahwa ini bukan hanya guyonan.


Rena mengangkat wajahnya, jelas raut bimbang tergaris disana. "Aku gak bisa disini, Aku gak bisa bohongin hati aku lagi, aku gak pernah nyaman ada disini, aku sudah berusaha bertahun-tahun, tapi ini bukan tempat aku. Aku gagal Aska, aku orang yang gagal". Rena melanjutkan pengakuannya tapi tidak lagi dengan kata-kata hanya dengan air mata. keluar sudah apa yang menjadi bebannya selama ini..


"Sayang, what's wrong? everybody knew you are strong". Aska menarik Rena kedalam pelukannya.


"Gak, aku pengecut, pecundang bahkan. aku gak bisa belajar jadi diri orang lain disana, aku selalu egois karena selalu pengen jadi diri sendiri, aku gagal".


"Jadi kamu pengen gimana?"


"Aku gak pengen disini lagi meskipun satu dunia akan ngetawain aku"


"Sayang kamu menyerah bukan berarti tanpa usaha, aku tau itu sulit untuk kamu ada di lingkungan itu, dan kalau kamu udah gak mampu disana, sekarang tugas kamu adalah tutup kedua telinga kamu, jangan denger apa yang mereka bilang, orang diluar sana cuma akan tertawa atau memuji basa-basi, gak ada yang benar-benar merasakan prosesnya.. Do your best, choose your choice".



Rena sedikit tenang, Ia melepaskan diri dari pelukan Aska. "Aku janji sayang, walau disini aku gagal, aku pecundang, aku janji disisi lain kehidupan aku, aku akan jadi yang terbaik. Jadi istri dan Ibu yang terbaik yang aku mampu. Aku janji untuk menjanjikan hal baik di sisa sisi kehidupan aku.. Maaf kalau ujung jalan aku disini gak seperti yang kamu bayangin". Rena menangis, sedih sekaligus lega. Akhirnya ada satu orang yang tau ketidak sanggupannya disini, yang selama ini hanya Ia pendam sendiri..


"Buat aku, buat kamu, karena kita dateng dan besar dari produk broken home, jadi buat kita yang utama adalah keluarga kita nanti, aku, kamu, anak-anak kita, hidup bahagia. Aku percaya kamu akan jadi istri dan ibu yang terbaik". Aska memeluk kekasihnya, perannya kini dibutuhkan Rena untuk meringankan beban dipundak itu, karena selama ini Rena jugalah yang selalu menemaninya sekalipun dalam posisi tersulit dihidupnya. Begitulah seharusnya cinta, saling menguatkan bahkan disaat seperti tidak ada kekuatan yang tersisa..


"Makasii ya sayang, finding you is my fortune".


"Sama-sama calon istriku".


Rena beranjak kekamar mandi, membersihkan mascara yang sudah luntur bersama air matanya.


Aska mengambil kertas yang dari tadi ditulis oleh Rena..


gue gak pernah tau kalau ternyata setiap kaki melangkah, setiap itu pula mungkin akan ketemu persimpangan. Dari langkah pertama di perjalanan ini, gak pernah terfikir satu kalipun untuk tidak menyelsaikan, sampai akhirnya gue sadar kalau kaki ini berjalan tanpa arah atau perjalanan ini bukan arah tujuan gue..

Aska menatap haru pada Rena saat Ia keluar dari kamar mandi. "Ren?".


"Iya sayang?".


"Gak bisa menjadi bintang yang paling tinggi bukan berarti gak bisa juga menjadi bintang yang paling menyinari sekitarnya. Aku sayang kamu dari beberapa tahun yang lalu dan untuk beberapa ratus tahun kedepan"


Sabtu, 17 November 2012

(F)ERDI

Lelaki tambun berusia sekitar 23 tahun, mengenakan polo shirt hitam yg terlihat seperti kain kaso, sempit, ketat. Pantopel di kakinya terlihat seperti warisan perahu Nabi Nuh, lebar. Tas laptop selempang yg membuat 'jembatan' pemisah antara dada kiri dan dada kanannya. Kumis tipis yg tidak terlalu kelihatan karena lemak dihidung sudah memasuki wilayah kumis.

Tetapi riang, selalu tersenyum. Bahkan tertawa saat tidak ada yg terlalu lucu. Bukan. Dia bukan orang gila.
Dia memang ramah..

Aku duduk memnunggunya di bangku yg di sediakan di bioskop ini. Ku lihat dari jauh laki-laki itu mendekat, aku beranjak dari dudukku, takut Ia terlalu lelah membawa badannya menuju tempatku.


"Na aku telat ya sayang?". Dia menyapaku ramah lengkap dengan senyumnya.

"Gak kok Er, aku juga belum beli tiketnya". Aku membalas senyumnya.

"Oh good, kita gak usah nontn yah Na, aku lagi pengen ngobrol-ngobrol aja"

Aku mengangkat alis kiri ku, memberi isyarat 'kenapa?' . 

Tampaknya dia mengerti  "Ya aku pengen ngobrol-ngobrol aja, kangen". Dia melirik ke arahku. Menatapku dengan penuh cinta. Selalu penuh cinta.

"Oh well". aku mengangkat kedua bahuku..



Brew & Co
19:21 WIB

"Kamu pesen apa sayang?". Dia menyodorkan menu ke arahku.
Aku membuka lembaran menu itu, membacanya tapi enggan memikirkan apa yg ingin aku pesan..

"Emh.. chocolate ice aja deh"

"Gak makan?"

"Aku tadi abis makan, kamu aja"

"Gak, aku juga udah makan tadi di kantor. Ice tea lychee aja Mbak ya 1". Dia menyerahkan menu kepada pelayan.

"Jadi kenapa Er gak jadi nonton?".

"Nana...". Dia menggenggam kedua tanganku. "Bisa gak kamu gak manggil aku 'ER' ? Nama aku Ferdi Na, bukan Erdi..'

"Oke gak masalah". Jawab ku acuh tak acuh.

"Dan aku tau Na kamu mau sama aku karena nama aku mirip sama nama mantan kamu, sama orang yg paling kamu sayang. Aku tau enam bulan inikamu sama sekali gak sayang sama aku.."

"Gak gitu Er, tsk maksud aku Fer, gak gitu. Aku mau jalanin sama kamu.."

"Nana, bukan salah aku kalo kamu sama orang itu putus, bukan salah aku juga kalo orang tua dia gak setuju sama kamu karena kalian beda keyakinan, bukan salah aku semua itu Na.. Dan juga bukan salah kamu, jadi untuk apa kita siksa diri kita  masing-masing dalam hubungan ini? Untuk saling menyakiti?? Gak kan Na? Kita gak sejahat itu kan Na?".

Aku diam, sesekali aku menggangguk, membenarkan apa yg dinyatakan oleh Ferdi.

"Aku gak ngerti gimana ngomongnya. Tapi aku gak suka jadi pelarian Na, gak ada satu orang pun yg terima di jadiin pelarian Na.."

"Aku ngerti Fer". Aku tak banyak bicara karena memang aku tidak ingin bicara tentang nama itu.

"Oke kalo kamu ngerti Na, buat apa kita buang-buang waktu dalam hubungan ini.."

"Iya kita selesaiin sampe disini aja Fer". Aku merasa sangat hebat, baru kali ini aku putus tapi aku tidak menangis.

Ferdi menyerahkan sebuah kartu. "Kamu buka ini kalo aku udah gak kliatan ya Na..". Lalu dia berdiri meninggalkanku..

"Fer". Aku menahan langkahnya. "Ini minumannya bayar dulu Fer aku belom ambil uang ke ATM". Entah setan tega apa yg merasuki jiwaku sampai bisa sebegininya memperlakukan Ferdi. Mungkin aku dendam pada masa laluku dan Ferdi yg aku tumbalkan.. 'maaf Fer' umpatku dalam hati..

Ferdi tersenyum dan segera mengeluarkan selembar uang seratus ribuan. "Kamu selalu gak mau rugi kalo sama aku, but it's okay.. Aku laki-laki tanggung jawab".

Kali ini dia melangkah tanpa henti, aku tidak lagi memanggil namanya. Aku lega.
Ku lihat punggungnya sudah tidak terlihat lagi, aku membuka plastik yg membungkus kartu itu.
Terlihat seperti undangan.

Ternyata benar itu adalah undangan..

Ada nama Ferdi disitu, tapi tidak bersanding denganku.

"Ferdi & Rani"

Aku membuang nafas..

'Jadi, sebenernya siapa yg nyakitin siapa Fer?'

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jumat, 16 November 2012

perjuangan nasi goreng




Gadis kecil berlari keluar dari sebuah rumah, Gadis itu masih mengenakan seragam sekolah dasar.
Ia membawa sebungkus kantong kresek hitam,
Rambut keriting anak itu seakan ikut berlari ke kanan dan ke kiri mengikuti langkah kakinya.
Keringat di hidungnya sudah terlihat seperti ingus.

Anak kecil yg tidak cantik, Ia gemuk dan hitam..

Gadis itu masih terus berlari, ternyata di belakangnya ada laki-laki paruh baya yg juga berlari. Mengejarnya. Mengejar gadis kecil itu..


"Heh anak kurang ajar! gak sopan kamu!!" Laki-laki paruh baya itu berteriak seakan tidak punya malu.

Tetapi anak itu tidak memperdulikan, Ia terus berlari. Tidak juga Ia pedulikan peluh yg kini sudah membanjiri seluruh tubuhnya.


Ia berhenti sebentar, nafasnya ngos-ngosan. Ia menengok kebelakang, sudah tidak nampak lagi lelaki itu.

kini Ia berjalan agak santai walaupun hatinya masih risau.


Didepan sebuah rumah lainnya Ia segera membuka pagar kayu rumah itu, membuka sepatu dan tergesa-gesa masuk rumah.

Di dalam rumah ada wanita paruh baya yg menyambut gadis itu sambil membawa segelas es teh manis kesukaan gadis yg usianya mungkin baru sekitar sepuluh tahun.


"Ini Bu dari nenek, cuma ada bawang merah sama beras sedikit".  Anak itu menyerahkan kresek kepada wanita yg ternyata ibu-nya.


Ibu itu tersenyum "gak apa-apa sayang kan bisa buat bikin nasi goreng buat kita makan. Gimana ulah 'dia' hari ini?".  Ibu itu bertanya sembari mengusap punggung anak perempuan Ia satu-satunya.

"Dia ngejar aku Bu, dia mau minta uang ini".  Anak itu mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan dari kantong seragamnya. "Ini uang dari nenek buat jajan aku, tapi ini buat beli telor aja Bu buat nasi goreng, Ibu makannya harus pake telor ya Bu biar enak".


Ibu itu diam, hatinya terlalu pilu, tubuhnya juga seakan kaku walau hanya untuk sejedar menggerakan bibirnya.
Ia memeluk Gadis itu "Maafin Ibu ya sayang, jangan cari laki-laki seperti dia untuk masa depan kamu. Cukup Ibu saja yg merasakan pahitnya".


------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kamis, 15 November 2012

Move on


20 Desember 2010


"Iya sayang nanti aku jemput yah abis aku meeting terakhir yah"

Kataku di telephon kepada kekasihku. Wanita yg telah mengisi hidupku selama beberapa tahun terakhir ini.
Fiza namanya..

Sudah berulang kali kami memutuskan atau tepatnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan beda profesi ini. Aku penulis, dia seorang perawat. Pekerjaannya tentang menyelamatkan nyawa, pekerjaanku tentang mengarang nyawa.
Berbeda, tapi saling mencintai..



19 Februari 2011


"Kamu gak pernah ngerti sih Ri rasanya. Kalau aku dapet libur lepas, aku selalu pake waktu itu buat kamu. Tapi gak dengan kamu, kamu selalu gak ada waktu buat aku.. Apa artinya cinta tanpa kasih sayang? Tanpa sentuhan? Tanpa komunikasi??".

Malam itu Fiza begitu marah padaku di telephon.
ya, komunikasi kami dua bulan ini memang hanya lewat telephon.
karena kami sibuk.. Oke! Aku ralat, karena aku sibuk..

Aku gak punya waktu untuk dia, bahkan hanya untuk sekedar beberapa saat mendengar cerita kesehariannya..

Rasanya dadaku remuk redam saat Fiza berkata "Fahri, apa salah kalau aku jatuh cinta sama laki-laki lain? Dia gak setenar kamu, gak juga pintar kaya kamu, bukan juga sekaya kamu. Tapi dia selalu ada untukku, bahkan selalu ada walaupun di saat aku menangisi kamu, menangis karena terlalu merindukan kamuuuu!!".

Setengah berteriak Fiza di kalimat terakhirnya.

"hanya dia yg datang untuk aku".

Aku tau Fiza menangis, serak suaranya..
Aku tau dia sangat mencintaiku, dari semua harta yg ku miliki tak pernah satu sen pun dia minta,
hanya waktu ku yg Ia minta. Dan aku tak bisa memberikannya.
Rasanya jahat kalau aku tidak melepaskan Fiza pada laki-laki yg pantas bahkan jauh lebih pantas untuk dapetin hatinya, daann hidupnya.

Mungkin aku akan terpuruk, mungkin aku tidak bisa lagi jatuh cinta.
Mungkin aku akan merindukkan dia sepanjang masa.
Aku tidak bisa ke lain hati.
Tapi aku tidak ingin lagi menyakiti dia.
Cinta seharusnya tidak menyiksa..

"Iya Fiza, kamu gak salah sama sekali kalau kamu jatuh cinta sama laki-laki lain. Aku emang gak pantes buat kamu. Tapi kamu inget satu hal, aku gak akan bakal susah lupain kamu".

Aku tutup telephonnya. Ku rebahkan badan ku di kasur, kepala ku menengadah ke atas.
Mencba merelakan cinta yg hilang, atau aku yg membuangnya.
Nafasku seakan memburu karena mencoba menahan air mata..





25 Mei 2011


Hp-ku berbunyi, muncul nama Ninda pada displaynya.
Aku sumringah dan langsung angkat telephon itu..

"hallo sayang, sekarang aku jemput kamu ya.."

Kamis, 08 November 2012

menggenggam matahari

Mama..
pernah suatu hari aku merasa kehilangan diriku sendiri,

merasa bahwa semua jalan menjadi sempit untuk ku,

pernah aku merasa dunia seakan menolak ku,

juga pernah aku merasa kaki ku seakan lumpuh,

dan bahkan aku merasa lebih baik aku mati..


Namun, kulihat senyum mu..

Kau berjalan ke arah ku membawa sebatang lilin,

mungkin bila mampu Kau genggam matahari,

Kau pasti akan membawanya untuk ku,

untuk menerangi jalanku yg dulu sering ku rasa begitu gelap..


Dan Kau Mama,

tak pernah Kau pedulikan bahaya..

hanya menyelamatkan ku yg terlintas di benak mu..

dan genggaman tangan mu selalu membuat ku berhasil melewati segala masa pahit..


Mamaaa....

bila hari ini aku terlihat gagal dalam prestasi dunia,

juga bila aku terlihat hina tanpa ada satupun yg membanggakan dari diriku,

tetap percayalah Mama..

tetaplah percaya padaku seperti biasa..

percaya bahwa aku akan selalu melangkah lebih baik dari hari ini.

percayalah pada ku Mama,

aku tau Kau tau, cinta ku pada mu akan menuntunku pada jalan yg lebih baik untuk kita.

Amin



========================================================================

KAMU

kamu itu ...

bukan dokter gigi,

bukan dokter mata,

bukan dokter umum,

bukan dokter hewan,

BUKAN!!!

kamu itu bukan dokter..


kamu itu ...

juga bukan paracetamol,

bukan pula ponstan..


tapi saat aku sakit,

aku lebih membutuhkan mu daripada semua itu...

Rabu, 07 November 2012

kesetiaan

suasana yg begitu sejuk, angin menerbangkan guguran daun, dan suara gemercik air yg menambah sejuk suasana damai di taman kota ini.
di pinggir kolam tampak seseorang sedang memberi remah roti pada ikan-ikan. Ia terkihat begitu bersahabat dengan alam, bersahabat dengan ciptaan Tuhan..


"Rimaa.." seorang laki-laki menyapa dengan hati-hati. takut merusak suasana tenang yg sedang dinikmati perempuan bernama Rima itu.

"Hei Ram, ngaqpain kesini?". Rima nampak terkut dengan kehadiran Ramli.

"cari kamu".

"kok gak BBM atau telfon aja? apa aku gak denger bunyi hp yah..". Rima mencari hp-nya di dalam tas.

"gak kok, aku emang gak ngehubungin dulu".

"oh". Rima tak tau harus berkata apa. Ia membaca ada sesuatu yg aneh di diri Ramli saat ini..

"aku mau ngomong sama kamu Rim". Ramli tampak begitu serius. "aku udah gak bisa nahan lagi untuk ngomong ini".

Rima terdiam, dalam hati Ia berujar "akhirnya saat ini dateng juga". Lalu Ia menghembuskan nafas perlahan hanya untuk memberi jeda atas apa yg sebenarnya sudah sangat Ia hindari.
"ngomong apa Ram?"

"Rim aku yakin kamu udah tau apa yg aku rasain ke kamu". Ramli membuka pembicaraannya.

"aku juga yakin kamu udah ngerti banget gimana kondisi kita kan Ram?". entah kenapa Rima langsung memotong omongan Ramli.

Ramli menatap Rima dengan tatapan yg tidak Rima ketahui persis artinya. Ramli juga coba membaca mata Rima, melihat apa yg Rima tidak sanggup ucapkan dengan kata-kata.

"dengar aku dulu, karena mungkin ini pertama dan terakhir aku ngomong hal ini sama kamu"

"oke Ram"

"gak tau sejak kapan persisnya aku ngerasain ini, tapi aku sadar setiap waktu sama kamu itu bisa buat aku bahagia. Saat malem aku baru pulang kerja dan kamu telfon aku nangis-nangis karena pacar kamu, aku lalu aku samperin kamu saat itu juga. kalau kamu belum makan, aku langsung panik dan orderin kamu makan whereever you are! kalo kamu lagi ada di jalan malem-malem, aku selalu jemput kamu. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Aku ngomong gini bukan untuk pamrih, aku cuma mau bilang kalo aku belom pernah sebelomnya melakukan semua itu se-tulus yg aku lakuin sama kamu. Dan aku sadar, aku jatuh cinta sama kamu". Ramli membuang jauh pandangannya, Ia gak sanggup lagi menatap bola mata Rima yg mulai basah.

"Ram, bahkan yg kamu lakuin lebih dari itu. kamu selalu jadi angin yg bisa menerbangkan semua beban aku, kamu juga yg selalu bertaruh dengan jarak dan waktu hanya untuk mengusir rasa sepi aku. Bahkan cuman kamu laki-laki yg begitu memuja aku juga mencintai aku dengan segala perjuangannya yg luar biasa. Cuma kamu yg sanggup lakuin itu buat aku Ram.. kamu selalu menjaga aku.."

Rima terisak, seharusnya Ia bahagia dicintai lelaki se-sempurna Ramli.


"Rim, aku cuma mau kamu tau kalo aku bener-bener jatuh cinta sama kamu. Dan kalo seorang aku pantas meminta lebih, aku pengen kamu bisa jadi teman hidup-ku..". Untuk kali ini Ramli berani menatap mata Rima, Ia ingin memastikan sesuatu yg tertangkap disana.

"Raamm..". Ia memberi jeda pada kalimatnya. "Dulu, dulu sekali saat dimana aku hampir gak percaya lagi tentang cinta, aku berdoa, jika boleh aku jatuh cinta sekali lagi, aku ingin memulai semua dari 0, dari sama-sama bukan siapa-siapa hingga bisa menjadi seseorang. Berdoa agar ada laki-laki yg bukan hanya mencintai ku tapi juga bisa menerima kebobrokan keluarga ku. Berdoa untuk bisa bahagia dengan seseorang yg bisa mencintai dan aku cintai. Itulah dia..".
Rima kembali dalam diam.
"Dan seiring berjalannya waktu bersama dia, aku bermimpi tentang laki-laki sempurna, kaya, tampan, smart. Dan selalu ada buat aku. Pada saat mimpi ku terwujud, aku juga bahagia. pembawa bahagia itu adalah kamu...".

"So? Jujur aku udah gak pengen nunggu lama lagi jawaban kamu, ternyata menunggu itu menyakitkan yah".

"Dia adalah jawaban dari doa-doa aku. Dan kamu, kamu adalah wujud nyata dari mimpi-mimpi aku. tapi aku,". Helaan nafas berat rima terdengar bersama gemercik air.
"Aku lebih percaya kekuatan doa, karena Tuhan terlibat dalam doa. Maaf Ramli..". Rima sudah tidak kuasa menahan semua yg ada di hatinya, Ia pun merasakan sakit, walau tak mungkin se-sakit yg di rasakan Ramli.


"Aku ngerti Rim, aku tau kamu gimana. kalau kamu bisa berhenti jatuh cinta sama Dia, pasti kamu udah jadi milik aku. Aku tau kamu sangat mencintai dia..".Walaupun pahit, Ramli tetap salut pada Rima, saat seperti ini hampir sulit menemukan wanita yg tahan terhadap godaan.

"Cari yg lebih segalanya dari aku Ram, kamu sangat pantas untuk bahagia..". Rima berujar tulus, Ia tak ingin Ramli menderita, karena jika saja Ia bisa, Ia akan tinggal bersama laki-laki terbaik yg pernah Ia temui sepanjang hidupnya..

Laki-laki sempurna itu hanya diam, Rima yg menangis. menangisi kebodohan yg mungkin akan Ia sesali di kemudian hari. Tapi untuknya, kesetiaan itu harus selalu terjaga...