dua perempuan usia 20an terlihat sedang asik terlibat dalam perbincangan yg seru. entah apa yg mereka bicarakan, mungkin tentang kuliah yg tak kunjung selesai. hhmmm tapi mungkin kalau ini yg dibahas tentu tidak akan ada selingan tawa hangat diantara mereka. mungkin mereka membicarakan hal lain, tapi yg jelas mereka tampak asik dan penuh canda tawa..
"Yas, ntar kalo kita udah lulus kita mau jadi apa yah?" Silvi mulai ingin membicarakan hal serius, namun tangannya tetap fokus pada makanan di piringnya..
"yaahhh paling juga jadi 'pemburu hotspot' atau 'atlit renang' lah" jawab Tyas santai sambil nyengir andalannya..
"APA LO KATA?? kuliah rawamangun - depok bertaun-taun cuma jadi pemburu hotspot? Silvi sungut taspi juga tertawa mendengar celotehan sahabatnya..
"yah abis mau jadi apaan? kita kan kuliah di 'Universitas Warung Pasta jurusan pemanfaatan hotspot' HAHAHA.. Trus kita juga lebih rajin berenang daripada ngafalin bahasa isyarat HAHAHAHA.., Oke! gue barusan cuma ketawa miris beb.." Tyas memang ceplas ceplos , untuk ukuran perempuan selera humornya cukup tinggi..
"hahahaha seringan di warpas sama di kolem sih ya kita daripada di kampus" Silvi ikut membenarkan..
"naahh tuh lo tau kan1 kalo aja skripsi itu bahasannya tentang 'snowy chip' mungkin gue udah lulus cum laude nih dud.." Tyas menyeruput minumannya..
"dad dud dad dud aja lo, badan lo juga padet gitu" Silvi sungut lagi ternyata..
"hahaha ah elooo jujur deeehhh" Tyas meraba dagu Silvi untuk menggodanya..
"heh jijik ya, mentang-mentang frustasi pacaran bertaun-taun gak dikawinin sekarang gue juga lo embat"
"heeehhh gila ngapain nyinggung-nyinggung gak dikawinin?? buat gue itu lebih sensitip daripada masalah kuliah!!.." gantian Tyas yg kali ini sungut..
"hahahaha gilingan dasar, kuliah jawabnya santai giliran kawin emosi aja lo" Silvi terlihat puas membalas Tyas..
Lalu mereka tertawa bersama, selintas terihat sepertinya mereka hidup dengan penuh kegembiraan, canda tawa, bebas, dan lepaass..
"dud gue sholat dulu yah" Tyas mengambil mukena dari dalam tasnya..
"oke gantian yah, gue jagain tas dulu"
Tyas berjalan menuju mushola yg disediakan warung makan ini..
"Ya Allah tolong beri hidup ku warna, karena telah sejak lama semua hanya terasa hitam dan putih..
tolong beri hidup ku kata-kata, karena telah sejak lama aku hanya mendengar fatamorgana..
tolong beri hidup ku keramaian yg hangat, karena sejak Ia pergi semua menjadi sepi dan dingin..
tolong beri hidup ku arah, karena aku merasa tersesat dalam dunia ku sendiri..
tolong beri hidup ku canda dan tawa, karena hati ku sudah bosan untuk terdiam dan menangis..
AMIN.. "
Lalu Tyas menutup wajah dengan kedua tangannya tanda Ia telah selesai berdoa, doa dari hatinya yg paling dalam.
Silvi memanggil, Tyas segera merapihkan alat sholatnya lalu menghampiri Silvi dengan canda tawa yg Ia tinggalkan pada Silvi sebelum sholat. untuknya, biarlah hanya Allah dan dia sendiri yg tau tentang apa yg sebenarnya Ia rasakan..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar